Rupiah Anjlok, Harga Pangan Meledak dan Pasar Tradisional Tertekan

CentralPostNews.com | Jakarta, Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kini bukan lagi sekadar isu makroekonomi di layar bursa keuangan. Dampaknya telah merembet hingga meja makan masyarakat dan denyut hidup pasar tradisional. Harga pangan yang terus merangkak naik menjadi alarm keras bahwa fondasi ketahanan pangan nasional masih rapuh karena tingginya ketergantungan pada impor.

Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), Andrian Lame Muhar, menilai gejolak kurs dolar telah menciptakan tekanan berlapis bagi pedagang pasar dan masyarakat kecil. Mulai dari impor sapi Australia, kedelai, bawang putih, hingga bahan kemasan pangan berbasis minyak bumi, semuanya ikut terdampak oleh penguatan dolar AS. Situasi ini membuat harga pokok penjualan pangan melonjak dan sulit dikendalikan.

Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan harga pangan menjadi pukulan paling nyata. Pasar tradisional kini menghadapi dua tekanan sekaligus: biaya operasional yang meningkat dan daya beli masyarakat yang melemah. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pasar rakyat berpotensi kehilangan daya saing di tengah gempuran modernisasi ritel dan tekanan ekonomi global.

Andrian menegaskan bahwa negara tidak boleh hanya menjadi penonton saat harga kebutuhan pokok terus bergerak naik. Pemerintah dinilai perlu memperluas subsidi pangan, memperkuat distribusi logistik, hingga memberi insentif lebih besar kepada peternak dan pelaku usaha pangan lokal. Langkah seperti subsidi pakan ternak, bantuan distribusi melalui tol laut, hingga pelonggaran pajak pangan dianggap menjadi solusi jangka pendek yang sangat mendesak.

Namun persoalan pangan tidak cukup diselesaikan hanya dengan subsidi. Indonesia juga harus mempercepat transformasi sistem perdagangan tradisional agar lebih efisien dan modern. Karena itu, langkah Inkoppas menggandeng BTN untuk melakukan digitalisasi koperasi pasar dinilai menjadi terobosan penting di tengah perubahan zaman.

Digitalisasi pasar tradisional bukan sekadar menghadirkan transaksi non-tunai, tetapi juga membuka peluang pengelolaan keuangan yang lebih transparan, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga pendataan pedagang yang lebih akurat. Selama ini, banyak koperasi pasar masih menggunakan sistem manual yang rawan kehilangan data dan sulit berkembang secara profesional.

Meski demikian, transformasi digital pasar tidak akan berhasil tanpa dukungan infrastruktur dan edukasi. Masih banyak pedagang yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital, ditambah keterbatasan jaringan internet di sejumlah wilayah. Karena itu, digitalisasi harus dibarengi pelatihan dan pendampingan agar pedagang kecil tidak tertinggal oleh perubahan sistem ekonomi baru.

Pernyataan Andrian Lame Muhar menjadi pengingat bahwa stabilitas pangan dan masa depan pasar tradisional bukan sekadar urusan pedagang, melainkan menyangkut ketahanan ekonomi nasional. Ketika rupiah melemah dan harga pangan melonjak, yang paling terdampak adalah rakyat kecil. Maka, negara dituntut hadir lebih kuat: menjaga harga tetap stabil sekaligus membawa pasar tradisional naik kelas menuju era digital. (Lery)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *