CentralPostNews.com | Gaza, Ketegangan di Gaza kembali meningkat setelah serangan udara Israel dilaporkan menewaskan Azzam Al-Hayya, putra dari negosiator senior Hamas, Khalil Al-Hayya. Insiden itu terjadi di tengah berlangsungnya pembicaraan damai yang dimediasi Amerika Serikat di Kairo, Mesir, guna mempertahankan gencatan senjata yang masih rapuh.
Pejabat senior Hamas, Basim Naim, menyatakan Azzam meninggal dunia akibat luka serius setelah terkena serangan Israel pada Rabu malam waktu setempat. Hingga kini, militer Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan tersebut. Azzam disebut menjadi putra keempat Khalil Al-Hayya yang tewas dalam operasi militer Israel selama hampir dua dekade terakhir.
Khalil Al-Hayya sendiri beberapa kali dilaporkan menjadi target percobaan pembunuhan Israel, namun berhasil selamat. Sementara itu, sejumlah anggota keluarganya terus menjadi korban dalam berbagai serangan, mulai dari konflik di Gaza tahun 2008 dan 2014 hingga serangan di Doha pada tahun lalu. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana konflik berkepanjangan di kawasan tersebut terus menyeret keluarga para petinggi Hamas ke dalam pusaran perang.
Sebelum kabar kematian putranya mencuat, Al-Hayya sempat menuding Israel sengaja merusak jalur diplomasi yang sedang dibangun. Ia menilai serangan terbaru menjadi bukti bahwa Israel tidak serius menjalankan kesepakatan gencatan senjata maupun melanjutkan fase perdamaian yang sebelumnya diusulkan Presiden Donald Trump melalui gagasan “Dewan Perdamaian”.
Saat ini, delegasi Hamas bersama sejumlah faksi Palestina lainnya masih berada di Kairo untuk membahas tahap kedua kesepakatan damai. Agenda utama dalam pembahasan itu meliputi penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza serta rencana rekonstruksi besar-besaran wilayah yang hancur akibat perang. Namun negosiasi masih menemui hambatan karena Hamas menolak membicarakan perlucutan senjata sebelum Israel benar-benar menghentikan seluruh operasi militernya.
Meski gencatan senjata resmi berlaku sejak Oktober 2025, bentrokan dan serangan sporadis masih terus terjadi. Jumlah korban sipil di kedua pihak terus bertambah, membuat situasi keamanan kawasan tetap berada dalam kondisi genting. Tewasnya putra kepala negosiator Hamas kini dikhawatirkan akan memperkeras sikap kelompok tersebut di meja perundingan dan semakin menguji peluang tercapainya perdamaian jangka panjang di Gaza. (Lery)












