PPTI Soroti Bahaya Rokok terhadap TB, Generasi Muda Diajak Bergerak

CentralPostNews.com | Jakarta, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran tentang bahaya rokok dan kaitannya dengan tuberkulosis (TB). Upaya tersebut dilakukan melalui talkshow bertajuk NAPAS (Naikkan Awareness tentang Paru dan Asap), yang mempertemukan pegiat kesehatan, aktivis pengendalian tembakau, generasi muda, dan penyintas TB.
Acara yang dibuka Ketua Umum PPTI, Yani Panigoro, itu turut dihadiri perwakilan organisasi Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) dan sejumlah organisasi kesehatan lainnya.
Diskusi berlangsung menarik dengan beragam pertanyaan, mulai dari dampak rokok terhadap risiko TB, bahaya rokok elektronik atau vape, hingga perlunya penguatan klasifikasi penyakit yang berkaitan dengan kebiasaan merokok.
Salah satu usulan peserta adalah mencantumkan penyakit akibat rokok secara lebih jelas dalam nomenklatur diagnosis, termasuk kemungkinan pengaturannya dalam International Classification of Diseases (ICD). Usulan ini dinilai penting untuk memperkuat pengenalan dan penanganan penyakit yang berkaitan dengan konsumsi tembakau.
Dalam diskusi tersebut, Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa persoalan serupa pernah menjadi pembahasan dalam konteks penyakit yang berkaitan dengan antimicrobial resistance (AMR). Menurut dia, pembahasan mengenai klasifikasi penyakit terkait rokok juga layak mendapat perhatian.
Bahaya rokok terhadap TB menjadi salah satu pokok bahasan utama. Asap rokok dapat merusak jaringan paru-paru dan mengganggu sistem kekebalan tubuh, sehingga meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi tuberkulosis. Karena itu, pengendalian rokok menjadi bagian penting dalam upaya melindungi kesehatan paru-paru dan mendukung penanggulangan TB.
Perhatian juga diberikan pada rokok elektronik. Tjandra merujuk penelitian yang terbit dalam jurnal ilmiah Public Health Challenges pada Februari 2026 berjudul “Vaping and Tuberculosis: An Overlooked Risk in High-Burden South Asian Countries” untuk membahas risiko vape yang masih perlu mendapat perhatian dalam konteks tuberkulosis.
Selain rokok konvensional dan vape, diskusi menyinggung bahaya tembakau tanpa asap (smokeless tobacco). Produk tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan di rongga mulut, termasuk peradangan dan kanker pada jaringan seperti lidah dan pipi.
Perspektif lain datang dari seorang penyintas TB yang juga mantan perokok. Ia hadir bersama istrinya dan membagikan pengalaman mereka, memberikan gambaran nyata mengenai pentingnya kesadaran terhadap kesehatan serta upaya menghentikan kebiasaan merokok.
Namun, salah satu pesan penting dari talkshow ini adalah besarnya peran generasi muda dalam pengendalian tembakau. Sejumlah panelis muda, termasuk aktivis pengendalian tembakau dan Putri WITT 2026, menunjukkan bahwa upaya mencegah kebiasaan merokok dapat dilakukan melalui keterlibatan aktif anak muda.
Kehadiran para influencer muda dengan ribuan pengikut di media sosial juga diharapkan memperluas jangkauan edukasi. Informasi mengenai bahaya rokok dan TB dapat disebarluaskan melalui berbagai platform agar semakin banyak masyarakat memahami risikonya.
Edukasi mengenai rokok dan TB tidak cukup berhenti pada forum diskusi.
Diperlukan gerakan bersama yang melibatkan organisasi kesehatan, komunitas, generasi muda, dan masyarakat luas untuk mencegah kebiasaan merokok serta mendorong perokok agar berhenti.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, perlindungan kesehatan paru-paru diharapkan semakin kuat dan upaya penanggulangan tuberkulosis dapat berjalan lebih efektif.
Prof. Tjandra Yoga Aditama merupakan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, anggota Badan Pengawas PPTI, dan Dewan Penasihat Stop TB Partnership Indonesia (STPI). Ia juga merupakan penerima penghargaan WHO Tobacco Free World pada 1998, WITT Award pada 2006, serta penghargaan atas upaya penanggulangan tuberkulosis bersama PPTI pada 2026. (Sendy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *