CentralPostNews.com | Banten, Video yang menampilkan letusan besar Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan beredar luas di media sosial dipastikan bukan menggambarkan kondisi terkini. Di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik dan status gunung yang telah dinaikkan menjadi Level III (Siaga), pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, menjelaskan bahwa rekaman yang viral tidak sesuai dengan hasil pemantauan terbaru di lapangan. Berdasarkan observasi petugas, erupsi terakhir tercatat pada Jumat (3/7), sedangkan hingga Sabtu (4/7) belum teramati letusan besar seperti yang diperlihatkan dalam video tersebut.
Meski video tersebut dinyatakan tidak mencerminkan kondisi aktual, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau memang mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Atas dasar hasil pemantauan visual dan instrumental, status gunung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Peningkatan status didasarkan pada sejumlah indikator, antara lain meningkatnya gempa vulkanik, deformasi tubuh gunung, emisi gas vulkanik, serta aktivitas erupsi yang menunjukkan tren kenaikan. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi otoritas untuk memperketat pengawasan dan memperbarui rekomendasi keselamatan bagi masyarakat.
Pemerintah mengimbau masyarakat, nelayan, wisatawan, maupun pelaku pelayaran agar tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Kapal yang melintasi perairan Selat Sunda juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi abu vulkanik maupun perubahan aktivitas gunung yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Di sisi lain, aparat kepolisian mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Penyebaran video atau narasi yang belum dipastikan kebenarannya dinilai berpotensi memicu kepanikan, terutama di wilayah sekitar Selat Sunda yang memiliki sejarah panjang bencana vulkanik dan tsunami.
Sejumlah laporan juga menyebutkan adanya dugaan bahwa video viral tersebut merupakan hasil manipulasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan masyarakat memperoleh informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, BPBD, maupun instansi pemerintah lainnya sebagai acuan dalam menyikapi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia dan berada di kawasan Selat Sunda yang memiliki tingkat kerawanan geologi tinggi. Pengalaman bencana tsunami akibat runtuhan tubuh gunung pada 2018 menjadi pengingat penting bahwa peningkatan aktivitas vulkanik harus disikapi dengan kewaspadaan, namun tetap berdasarkan informasi resmi dan dapat dipertanggungjawabkan. (Andi JK)












