PKKMB UKI Angkat Kearifan Lokal dan Kreativitas dalam Perkembangan Film Indonesia

CentralPostNews.com | Jakarta, Universitas Kristen Indonesia (UKI) menghadirkan sejumlah pelaku industri perfilman nasional dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UKI 2026. Melalui sesi bertajuk Digital World, Real Life Impact, mahasiswa baru diajak memahami bagaimana kearifan lokal, kreativitas, dan perkembangan dunia digital dapat menjadi bagian penting dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai sekaligus memberikan dampak bagi masyarakat.

Talkshow yang berlangsung di Auditorium Graha William Soeryadjaya UKI, Jakarta, Rabu (9/9/2026), menghadirkan produser Bona Pascal, sutradara Dom Dharmo, serta para pemeran film Suanggi: Ilmu Kutukan, yakni Iwa K., Yewen, dan Carissa Perusset. Sebagai produser Suanggi: Ilmu Kutukan, Bona Pascal mengatakan film tersebut mengangkat kisah horor yang bersumber dari Indonesia Timur dengan tetap memperhatikan budaya dan kepercayaan masyarakat setempat.

“Dari kacamata produser, kami ingin mengembangkan cerita horor dari Indonesia Timur tanpa menghakimi budaya dan kepercayaan tertentu. Kami ingin memperkenalkan kearifan lokal yang ada di Indonesia,” ujar Bona di hadapan mahasiswa baru UKI.

Sementara itu, sutradara Suanggi: Ilmu Kutukan, Dom Dharmo, menjelaskan bahwa konsep suanggi memiliki makna sakral bagi sebagian masyarakat di Indonesia Timur. Karena itu, suanggi tidak dapat semata-mata dipahami sebagai entitas gaib atau hantu sebagaimana gambaran dalam cerita horor pada umumnya. Menurut Dom, pemahaman terhadap konteks budaya menjadi bagian penting dalam proses produksi film. Tim produksi, kata dia, terlebih dahulu melakukan riset ke Papua agar cerita yang diangkat tidak kehilangan konteks sekaligus tetap menghormati masyarakat yang menjadi sumber inspirasinya.

“Kami harus melakukan riset ke Papua sebelum membuat film ini sehingga dapat menghasilkan karya visual yang komersial dan dengan cerita yang dekat dengan keluarga. Saat riset, kami harus berhati-hati agar tidak menyinggung kelompok tertentu,” ujar Dom.

Ia menambahkan, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengangkatan kearifan lokal ke dalam karya kreatif membutuhkan riset dan sensitivitas budaya. Cerita yang bersumber dari kehidupan masyarakat memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi karya perfilman, namun proses kreatif tersebut tetap harus disertai penghormatan terhadap nilai, tradisi, dan masyarakat yang menjadi sumber cerita.

Iwa K. Ajak Mahasiswa Kenali Potensi Diri

Salah satu pemeran Suanggi: Ilmu Kutukan, Iwa K., turut membagikan pengalamannya selama berkecimpung di industri hiburan dan perfilman Indonesia. Ia mengajak mahasiswa baru UKI untuk mengenali potensi diri serta tidak berhenti belajar agar mampu beradaptasi dengan perubahan.

“Cara menjaga eksistensi diri adalah dengan mengetahui potensi yang ada dalam diri kalian dan terus belajar,” kata Iwa K.

Iwa K. juga berbagi pandangan mengenai cara menghadapi komentar negatif di media sosial. Menurutnya, seseorang tidak perlu reaktif terhadap setiap komentar yang diterima. Sebaliknya, komentar tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi sekaligus motivasi untuk mengembangkan diri.

“Tidak perlu reaktif dan harus membuat lebih kuat. Kata-kata tidak akan melukai, namun menjadi motivasi dan membangun diri menjadi lebih baik,” ujarnya.

Rektor UKI Tekankan Growth Mindset

Semangat untuk terus belajar dan mengembangkan diri juga menjadi pesan yang disampaikan Rektor UKI, Prof. Angel Damayanti, dalam sesi PKKMB UKI bertajuk Impactfully Grow Up. Menurut Angel, pendidikan di UKI tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, mahasiswa diharapkan mampu bertumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

“Di UKI bukan hanya lulus menjadi sarjana, tetapi bertumbuh menjadi manusia. Mahasiswa harus memiliki growth mindset. Jadilah seseorang yang memberikan dampak bagi orang lain. Growth mindset berarti kemampuan dan kecerdasan bisa ditingkatkan dengan berbagai upaya,” tegas Angel.

Karena itu, Angel mengajak mahasiswa baru untuk melihat tantangan dan kesulitan selama menempuh pendidikan sebagai bagian dari proses belajar dan pembentukan karakter.

“Growth mindset berarti menikmati semua kesulitan menjadi ruang untuk belajar dan bertumbuh. Hebat karena usaha kalian sendiri. Belajar melayani ketika mau menjadi hebat,” tuturnya. Melalui rangkaian PKKMB UKI 2026, mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan kehidupan akademik di perguruan tinggi, tetapi juga diajak memahami pentingnya kreativitas, kemampuan beradaptasi, penghargaan terhadap keberagaman budaya, serta kemauan untuk terus belajar dan bertumbuh.

Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri sekaligus menghadirkan karya serta kontribusi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. (SH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *