centralpostnews.com | JAKARTA – Perkembangan teknologi digital mengubah lanskap jurnalistik, sehingga jurnalis perlu beradaptasi dan bekerja sama dengan kreator konten untuk menjaga akurasi dan jangkauan informasi. Hal itu disampaikan Dr. Ronny F. Sompie dalam kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Hotel Sofyan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).
Dr. Ronny menjelaskan bahwa media tradisional mengalami perubahan karena masyarakat lebih banyak mengakses informasi secara digital. Jurnalis memiliki standar profesional ketat dalam verifikasi fakta, sedangkan kreator konten unggul dalam membangun keterlibatan audiens dengan format yang menarik.
Namun, dominasi algoritma media sosial menghadirkan tantangan, karena lebih dari 60 persen pendapatan media bergantung pada lalu lintas yang cenderung mengutamakan konten sensasional. Hal ini berkontribusi pada penyebaran misinformasi dan disinformasi, ditambah tekanan ekonomi yang membuat sebagian kreator konten memproduksi konten viral tanpa memperhatikan etika.
Untuk mengatasinya, kolaborasi strategis antara keduanya sangat penting, seperti melalui produksi konten bersama, pengemasan ulang laporan, dan kerja sama pengecekan fakta. Selain itu, AI harus digunakan sebagai alat bantu, bukan penentu kebenaran, dan setiap informasi perlu melalui verifikasi berlapis.
Dari sisi hukum, KUHP Nasional mengatur tentang penyebaran berita bohong dan informasi menyesatkan, sehingga setiap individu memiliki tanggung jawab hukum atas konten yang dipublikasikan. Para ahli menegaskan bahwa jurnalisme tetap menjadi fondasi utama dalam memberikan informasi yang dapat dipercaya.
Kegiatan UKW menghadirkan narasumber seperti Irjen Pol (Purn) Ronny F. Sompie, Hardly S. Pariela, dan Gede Narayana. Sedangkan Ketua Dewan Pers Niniek Rahayu dan Kadivhumas Polri Irjen Pol Jhonny Edison Isir berhalangan hadir.
(Red)












